HUKUM BERPEGANG PADA HISAB FALAKI UNTUK PENENTUAN WAKTU IBADAH 3

Manhajul Anbiya:
🔭3⃣⛅ HUKUM BERPEGANG PADA HISAB FALAKI UNTUK PENENTUAN WAKTU IBADAH
——————-
🌠 Hai’ah Kibaril ‘Ulama – Kerajaan Saudi ‘Arabia

3⃣ Ketiga: 🌇 Bahwa dalam kondisi cerah pada malam ke-30, ru`yatul hilal SATU-SATUNYA YANG DIJADIKAN LANDASAN (secara syar’i) untuk penetapan awal dan akhir bulan-bulan qamariyah, terkait dengan penentuan waktu ibadah.
🌌❌ Bila al-hilal tidak terlihat (pada malam itu) maka para ‘ulama sepakat menggenapkan bilangan (bulan sebelumnya) menjadi 30 hari.
☁ Adapun jika langit mendung pada malam ke-30 tersebut, maka mayoritas ‘ulama berpendapat menyempurnakan bilangan (bulan sebelumnya) menjadi 30 hari, berdasarkan hadits:
“Bila (al-hilal) terhalangi atas kalian, maka sempurnakanlah bilangan (bulan sebelumnya) menjadi 30 hari.”  HR. al-Bukhari 1907

Hadits ini merupakan tafsir atas riwayat lainnya yang berlafazh:
فَاقْدُرُوْالَهُ
“Maka perkirakanlah.” HR. al-Bukhari 1906, Muslim 1080.

📚 Al-Imam Ahmad rahimahullah – dalam riwayat lain dari beliau *) – dan sebagian ‘ulama berpendapat bahwa dalam situasi mendung, bulan Sya’ban dijadikan 29 hari saja dalam rangka berhati-hati untuk bulan Ramadhan. Mereka menafsirkan riwayat (فاقدروا له ) “Maka perkirakanlah.” dengan makna “Persempitlah”, berdasarkan firman Allah Ta’ala :
“Barangsiapa yang ditentukan atasnya rezkinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (Ath-Thalaq: 7)
(Ditentukan) yakni: ‘disempitkan’ rezkinya.

⚠ Penafsiran ini TERTOLAK dengan riwayat hadits lainnya yang tegas dan jelas dengan lafazh:
فَاقْدُرُوْالَهُ ثَلَاثِيْنَ
“Maka tentukanlah bilangannya menjadi 30 (hari).”  HR. Muslim 1080

Dalam riwayat lain dengan lafazh:

فَأَكْمِلُوْاعِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِيْنَ
“Maka sempurnakanlah bilangan (bulan) Sya’ban menjadi 30 hari.” HR. al-Bukhari 1909

⛵ An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam syarh (penjelasan) beliau terhadap kitab Shahih Muslim,yaitu pada hadits:
فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْالَهُ
“Jika (al-hilal) terhalangi atas kalian maka perkirakanlah.”
Pendapat dari Ibnu Juraij dan beberapa ‘ulama lainnya, di antaranya Mutharrif bin ‘Abdillah – yaitu Ibnu Asy-Syakhir- Ibnu Qutaibah dan lainnya, yang memperhitungkan perkataan para ahli astronomi (ahli hisab) untuk penetapan awal dan akhir bulan-bulan qamariyah, yakni ketika langit mendung.
Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan: “Telah diriwayatkan dari Mutharrif bin Asy-Syakhir, namun RIWAYATNYA TIDAK SAH, kalaupun sah maka tidak boleh mengikuti pendapat beliau tersebut, karena ketidakbenaran pendapat beliau dalam masalah ini dan menyelisihi hujjah (dalil).”
Kemudian beliau (Ibnu ‘Abdil Barr,  pen)  menyebutkan dari Ibnu Qutaibah seperti pendapat tersebut, lalu beliau mengatakan: “Ini bukan bidangnya Ibnu Qutaibah, dan beliau tidak bisa dijadikan rujukan dalam bidang seperti ini.”
Berikutnya beliau juga menyebutkan dari Khuwaiz Mindad bahwa dia menukilkan dari al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, lalu al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr pun mengatakan: “Riwayat yang sah dari beliau (asy-Syafi’i) dalam kitab-kitab beliau dan yang ada para murid-murid beliau, dan mayoritas ‘ulama, adalah berbeda dengan itu.**)” – sekian-

☀ Dengan ini jelaslah, bahwa letak perbedaan pendapat di antara para fuqaha’ adalah ketika kondisi mendung dan yang semakna.***) Itu semuanya kaitannya dengan penentuan waktu-waktu ibadah.
Adapun dalam masalah muamalah, maka silakan manusia menentukan waktu berdasarkan pedoman yang mereka kehendaki.

—————–
catatan kaki (dari penerjemah) :
*) Perhatian!: Telah dinisbahkan kepada al-Imam Ahmad rahimahullah pendapat wajibnya bershaum pada tanggal 30 Sya’ban jika pada malamnya hilal terhalangi oleh mendung dan semisalnya. Hal ini telah dibantah, sebagaimana terdapat dalam Kitab al-Mughni di mana Ibnu Qudamah rahimahullah menukilkan perkataan al-Imam Ahmad : “Tidaklah wajib shiyam dan tidak pula masuk pada rangkaian Ibadah Shiyam Ramadhan jika seseorang shaum pada hari itu.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Tidak boleh shaum di hari itu dan ini adalah madzhabnya al-Imam Ahmad“.

**)  Artinya tidak Manhajul Anbiya:
**) Artinya tidak benar jika pendapat merujuk kepada ahli hisab dalam kondisi mendung tersebut dinisbahkan kepada al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Justru pendapat beliau, sebagaimana ada dalam kitab-kitab beliau dan pada murid-murid beliau, adalah sebagaimana pendapat mayoritas ‘ulama, yaitu: bersandar pada ru`yatul hilal, apabila mendung/hilal tidak terlihat maka menggenapkan bilangan bulan menjadi 30 hari.

***)  Itu pun pendapat yang menyatakan merujuk pada ahli hisab pada kondisi mendung tertolak, karena jelas-jelas menyelisihi nash/dalil yang jelas dan tegas, sebagaimana dijelaskan di atas.

📎📩 bersambung, insya Allah

Sumber :
💻 http://www.manhajul-anbiya.net/hukum-berpegang-pada-hisab-falaki-untuk-penentuan-waktu-ibadah/

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu’ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s