📗Apakah Adzan Dilantunkan Sesuai Hukum-Hukum Tajwid?

image

📗Apakah Adzan Dilantunkan Sesuai Hukum-Hukum Tajwid?

Berikut ini adalah tanya jawab dgn Syaikh al-Albaniy tentang hal itu:

السائل : هل يجوز في الأذان أحكام التجويد أم يجوز فيه غير ذلك ؟ هل يرتل المؤذن حينما يرفع الأذان ؟

الشيخ : لا أعلم أن الأذان كان يجودفي عهد الرسول عليه السلام ، ولذلك يؤذن باللغة العربية وبس .

Penanya:
Apakah boleh (menerapkan) hukum-hukum tajwid pada adzan, apakah juga boleh menerapkannya pada selainnya? Apakah muadzdzin mentartilkan bacaan ketika mengumandangkan adzan?

Jawaban Syaikh al-Albaniy:
Saya tidak mengetahui bahwa adzan ditajwidkan di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, sehingga (cukup) diadzankan dgn bahasa Arab dan itu saja

(Silsilah al-Huda wan Nuur, kaset no 15)

Sumber: http://albanyimam.com/play.php?catsmktba=9784

:idea::idea:📝📝:idea::idea:

WA al-I’tishom
📗Apakah dalam Adzan Disunnahkan Menoleh ke Kanan dan ke Kiri?

Secara asal, saat adzan dikumandangkan di atas menara, disunnahkan pada Hayya Alassholaah dan Hayya alal Falaah menoleh ke kanan dan menoleh ke kiri. Sesuai hadits Abu Juhaifah riwayat Muslim dan juga diriwayatkan al-Bukhari secara ringkas:

وَأَذَّنَ بِلَالٌ قَالَ فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَا هُنَا وَهَا هُنَا يَقُولُ يَمِينًا وَشِمَالًا يَقُولُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

Dan Bilal mengumandangkan adzan. Saya mengikuti arah mulutnya ke sini dan ke sini. Beliau berkata ke kanan dan ke kiri: Hayya ‘alassholaah.. Hayya ‘alal falaah (H.R Muslim no 777)

Sedangkan jika adzan dikumandangkan dgn microphone (pengeras suara), para Ulama menganggap perbuatan menoleh ke kanan dan ke kiri tidak diperlukan.

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ” تنبيه: الحكمة من الالتفات يمينا وشمالا إبلاغ المدعوين من على اليمين وعلى الشمال، وبناء على ذلك: لا يلتفت من أذن بمكبر الصوت؛ لأن الإسماع يكون من «السماعات» التي في المنارة؛ ولو التفت لضعف الصوت؛ لأنه ينحرف عن «الآخذة» ” انتهى من “الشرح الممتع” (2/ 60).

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menyatakan: Hal yg perlu mendapat perhatian: hikmah dalam menoleh ke kanan dan ke kiri (saat adzan) adalah menyampaikan (suara) kepada orang-orang yg dipanggil di arah kanan dan kiri. Berdasarkan hal ini, maka tidaklah menoleh saat adzan dgn pengeras suara. Karena memperdengarkan (adzan yg dilakukan waktu itu) adalah melalui menara. Kalau orang yg adzan dgn pengeras suara menoleh (ke kiri atau ke kanan) niscaya suaranya akan melemah karena ia menyimpang (posisinya) dari microphone (asy-Syarhul Mumti’ ( 2/60))

:idea::idea:📝📝:idea::idea:

WA al-I’tishom
📗Bolehkah Seorang Muadzin Merangkap Menjadi Imam?

al-Imam anNawawi rahimahullah menyatakan:

أجمع المسلمون على جواز كون المؤذن إماما 
Kaum muslimin sepakat atas bolehnya muadzin sebagai Imam (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/80))

:idea::idea:📝📝:idea::idea:

WA al-I’tishom ?

Berikut ini adalah tanya jawab dgn Syaikh al-Albaniy tentang hal itu:

السائل : هل يجوز في الأذان أحكام التجويد أم يجوز فيه غير ذلك ؟ هل يرتل المؤذن حينما يرفع الأذان ؟

الشيخ : لا أعلم أن الأذان كان يجودفي عهد الرسول عليه السلام ، ولذلك يؤذن باللغة العربية وبس .

Penanya:
Apakah boleh (menerapkan) hukum-hukum tajwid pada adzan, apakah juga boleh menerapkannya pada selainnya? Apakah muadzdzin mentartilkan bacaan ketika mengumandangkan adzan?

Jawaban Syaikh al-Albaniy:
Saya tidak mengetahui bahwa adzan ditajwidkan di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, sehingga (cukup) diadzankan dgn bahasa Arab dan itu saja

(Silsilah al-Huda wan Nuur, kaset no 15)

Sumber: http://albanyimam.com/play.php?catsmktba=9784

:idea::idea:📝📝:idea::idea:

WA al-I’tishom
📗Apakah dalam Adzan Disunnahkan Menoleh ke Kanan dan ke Kiri?

Secara asal, saat adzan dikumandangkan di atas menara, disunnahkan pada Hayya Alassholaah dan Hayya alal Falaah menoleh ke kanan dan menoleh ke kiri. Sesuai hadits Abu Juhaifah riwayat Muslim dan juga diriwayatkan al-Bukhari secara ringkas:

وَأَذَّنَ بِلَالٌ قَالَ فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَا هُنَا وَهَا هُنَا يَقُولُ يَمِينًا وَشِمَالًا يَقُولُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

Dan Bilal mengumandangkan adzan. Saya mengikuti arah mulutnya ke sini dan ke sini. Beliau berkata ke kanan dan ke kiri: Hayya ‘alassholaah.. Hayya ‘alal falaah (H.R Muslim no 777)

Sedangkan jika adzan dikumandangkan dgn microphone (pengeras suara), para Ulama menganggap perbuatan menoleh ke kanan dan ke kiri tidak diperlukan.

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ” تنبيه: الحكمة من الالتفات يمينا وشمالا إبلاغ المدعوين من على اليمين وعلى الشمال، وبناء على ذلك: لا يلتفت من أذن بمكبر الصوت؛ لأن الإسماع يكون من «السماعات» التي في المنارة؛ ولو التفت لضعف الصوت؛ لأنه ينحرف عن «الآخذة» ” انتهى من “الشرح الممتع” (2/ 60).

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menyatakan: Hal yg perlu mendapat perhatian: hikmah dalam menoleh ke kanan dan ke kiri (saat adzan) adalah menyampaikan (suara) kepada orang-orang yg dipanggil di arah kanan dan kiri. Berdasarkan hal ini, maka tidaklah menoleh saat adzan dgn pengeras suara. Karena memperdengarkan (adzan yg dilakukan waktu itu) adalah melalui menara. Kalau orang yg adzan dgn pengeras suara menoleh (ke kiri atau ke kanan) niscaya suaranya akan melemah karena ia menyimpang (posisinya) dari microphone (asy-Syarhul Mumti’ ( 2/60))

:idea::idea:📝📝:idea::idea:

WA al-I’tishom
📗Bolehkah Seorang Muadzin Merangkap Menjadi Imam?

al-Imam anNawawi rahimahullah menyatakan:

أجمع المسلمون على جواز كون المؤذن إماما 
Kaum muslimin sepakat atas bolehnya muadzin sebagai Imam (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/80))

:idea::idea:📝📝:idea::idea:

WA al-I’tishom

Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s