Seri Pendidikan anak: Memperhatikan Pendidikan Anak

Oleh Ustadz Ayip

Para nabi dan rasul yang Allah Ta’ala utus ke muka bumi ini selalu memberi perhatian kepada anak-anaknya. Kisah para nabi atau rasul beserta anak-anak mereka banyak diabadikan di dalam Alqur’an. Kisah mereka memberi gambaran, betapa sangat urgen memperhatikan keadaan anak, terlebih masalah pendidikan diniyah (agama).

Nabi Nuh ‘alaihissalam tetap menasihati anaknya untuk tidak bergaul dengan kelompok masyarakat yang kufur kepada Allah Ta’ala. Saat kondisi sedemikian kritis, Nabi Nuh ‘alaihissalam menyeru anaknya untuk tetap bersamanya menaiki perahu. Kala itu, air bah yang begitu dahsyat akan menenggelamkan manusia-manusia yang kufur kepada Al-Khaliqurrahman, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

“…Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud:42)

Nabi Nuh ‘alaihissalam menasihati anaknya untuk berlepas diri dari orang-orang kafir.

Nilai pendidikan yang bisa dipetik dari kisah di atas, sungguh menanamkan semangat al-wala’ wal-bara’ terasa amat penting. Apalagi ditengah kehidupan manusia sekarang yang mengangkat tinggi paham pluralisme sebagai paham yang dijejalkan ke dalam kehidupan kaum muslimin. Melalui paham pluralisme, manusia dihasung untuk membenarkan semua paham agama. Padahal agama yang benar dan diridhai disisi Allah hanyalah Islam.

Bagaimana mungkin seorang anak akan memiliki kepribadian seorang muslim yang benar, jika apa yang dilihat dalam keseharian adalah perilaku kaum kafir. Bagaimana mungkin kebiasaan-kebiasaan yang islamis akan tertanam pada diri anak, jika orang-orang yang berada disekitarnya adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-NYA.

Contoh yang sederhana, perilaku makan dan minum dalam Islam telah diatur sedemikian rupa. Islam mengajarkan etika terkait makan dan minum. Seperti, makan-minum hendaknya dengan tangan kanan, membaca bismillah saat memulai makan-minum dan tata aturan makan-minum lainnya. Apa yang akan terjadi pada diri anak manakala dalam kehidupan sehari-hari yang dilihat dan didengar sang anak adalah kebiasaan-kebiasaan yang tak mengajarkan itu semua? Apakah anak akan berperilaku islamis terkait perilaku makan-minumnya?

Tentu, nilai-nilai islamis itu tak akan bisa diserap sang anak. Bahkan, sang anak akan menyerap nilai-nilai kekufuran manakala dirinya hidup bersama orang-orang kafir. Dia tak mendapat lingkungan yang mendukung bagi tumbuh-kembang kepribadiannya kearah yang diridhai-NYA.

Maka, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pendidikan anak sangat dituntut. Sungguh, sangat membahayakan berinteraksi dengan kaum kafir, manakala tidak memiliki benteng yang kokoh. Karenanya, Islam mengatur sedemikian rupa muamalah dengan kaum kafir.

Saat maut menjemput, kematian tak bisa lagi ditunda. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam masih tetap memperhatikan keadaan anak-anaknya. Apa yang beliau tatap perihal keadaan anak-anaknya? Bukan masalah harta yang ia bicarakan dengan anak-anaknya. Bukan pula masalah kekhawatiran bahwa anaknya tak bisa makan kelak. Bukan urusan keduniaan yang ia perbincangkan kepada anak-anaknya. Tetapi, sepeninggalnya nanti, tumbuh kekhawatiran anak keturunannya menjadi anak-anak yang tiada lagi bertauhid. Dialog indah, penuh makna dan sarat ibrah (pelajaran) bagi orang-orang berakal, bisa ditemukan dalam Alquran, Al-Baqarah:133;

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyembah ilah-mu dan ilah leluhurmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) ilah Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-NYA.”

Lihatlah, sebagai orang tua Nabi Ya’qub sedemikian tajam memperhatikan pendidikan tauhid bagi anak-anaknya. Tauhid adalah fitrah yang melekat pada diri anak. Tauhid inilah yang semestinya senantiasa dikawal oleh para orang tua agar senantiasa terpatri kukuh dalam diri anak, dan tentu saja dalam diri orang tua sendiri.

Fitrah tauhid ini pernah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Setiap anak yang lahir dalam keadaan membawa fitrah (tauhid). Maka, kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api).” (HR. Al-Bukhari-Muslim hadits dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Sungguh, barangsiapa yang menelantarkan pendidikan tauhid kepada anak-anaknya, enggan memberi bimbingan tauhid, dan menjaga kemurnian tauhid pada sang anak, berarti ia telah berbuat jahat yang teramat dahsyat. Sebab, salah satu kerusakan pada diri anak, adalah datang dari pihak orang tua. Para orang tua tak memiliki kepedulian terhadap pendidikan agama anak-anaknya. Para orang tua tak mau meluangkan waktunya untuk menanamkan sunah Rasul-NYA kepada buah hatinya.

Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan agar menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-NYA kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim:6)

Saat memberi penjelasan terhadap ayat di atas, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebutkan, bahwa yang dimaksud “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” yaitu ajarilah diri kalian dan keluarga kalian al-khair (kebaikan). (Diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadraknya 4/494).

Karenanya, sudah tiba masanya bagi para orang tua untuk senantiasa memperhatikan ke mana arah pendidikan anak-anaknya. Janganlah lantas berlepas diri dari memantau arah pendidikan anak. Sungguh, berapa banyak anak yang terjatuh dalam kesesatan akidah lantaran tidak terbimbing secara baik. Anak terjatuh pada kejelekan akidah lantaran orang tua salah menempatkan pendidikan anak dan salah dalam memilih guru pembimbing bagi anak-anaknya. Saat tumbuh, pada diri anak disemai ajaran akidah yang tidak benar. Sehingga, berapa banyak manusia yang kemudian terjatuh pada bentuk kesyirikan, menyembah kuburan, meyakini bintang-bintang (Virgo, Gemini dan sebagainya). Nas’alullaha assalamah wal’afiyah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridhai-NYA. Amin.

Mendoakan sang anak termasuk cara mendidik anak yang dituntunkan Islam. Saat orang tua mendoakan sang anak, saat itulah segenap perhatian tertuju pada sang buah hati. Oleh karena itu, agama mengingatkan agar orang tua tidak mengucapkan doa kejelekan kepada anaknya. Sebab, bisa saja doa kejelekan itu terkabul. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (yang terjemahannya):

“Tiga doa yang tidak ragu lagi dikabulkan, yaitu doa (kejelekan) orang tua terhadap anaknya, doa orang yang tengah safar (bepergian) dan doa orang yang tengah dizalimi.” (HR. Abu Dawud)

Doa kejelekan yang dipanjatkan orang tua bisa memberi pengaruh terhadap keadaan anak. Sebagai manusia, terkadang kejengkelan hinggap dalam jiwa. Namun, berusahalah agar kejengkelan tersebut tidak membuahkan kata-kata yang jelek yang ditujukan kepada anak. Sikap jengkel adalah manusiawi. Namun manakala kejengkelan itu menjadi sebab terlontarnya sumpah serapah, umpatan dan caci maki, maka ini menjadi sesuatu yang tak baik. Lapangkanlah dada, besarkanlah jiwa, dan pancangkanlah kesabaran dalam diri.

“Janganlah kalian ucapkan kata (doa), kecuali yang baik. Karena sesungguhnya para malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim dari Ummul-mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha)

Tak selamanya perilaku anak menyenangkan orang tua. Dari sekian sikap sang anak, ada saja diantaranya yang menjengkelkan orang tua. Keadaan ini semakin diperparah dengan keadaan sikap mental orang tua yang mudah terpancing situasi. Keadaannya bisa semakin runyam manakala orang tua dalam keadaan psikis tertekan (stress), lelah, penat dan tengah banyak menghadapi banyak masalah. Dalam kondisi semacam ini tingkat pengendalian orang tua menjadi melemah. Mudah marah, mengeluarkan kata-kata tak baik dan tindakan-tindakan tak terukur kerap muncul. Anak pun menjadi sasaran. Pelampiasan dihempaskan kepada sang anak akibat dari suasana hati, pikiran dan masalah yang mengakumulasi. Nas’alulllaha as-salaamah (Kita memohon kepada Allah keselamatan dari hal itu).

Menyadari betapa sebagai manusia banyak dihinggapi kelemahan, maka doa menjadi kekuatan dahsyat bagi manusia beriman. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberi keteladanan dalam mendoakan sang buah hati. Teladan indah itu diabadikan dalam firman Allah Ta’ala.

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Al-Baqarah:35)

Doakanlah anak. Kala sepertiga malam terakhir, saat banyak manusia lelap tertidur, hening, hati dan pikiran pun masih terasa bening, panjatkanlah doa kebaikan bagi sang buah hati. Mohonkan kepada Yang Mahatahu dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Doakan ia menjadi anak yang shalih. Anak nan penuh bakti kepada kedua orang tuanya. Anak yang senantiasa memberi kebaikan kepada segenap manusia. Doakan ia menjadi pengamal dan pengawal dakwah tauhid. Doakan ia menjadi orang yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mencintai dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasul-Nya. Doakan ia kala sujud dan kala waktu-waktu dan (di) tempat-tempat dikabulkannya doa. Sesungguhnya Allah Maha mendengar doa hamba-NYa.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabb-ku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (Ash-Shaffaat:100)

http://salafy.or.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s