Apakah Ayah dan Ibu Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wassalam masuk surga?

Bismillah

Banyak terjadi perdebatan di kalangan umat Islam dari dulu hingga kini mengenai nasib ayah dan ibu Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wassalam di akhirat kelak, apakah berada di surga atau neraka. Sebagian mereka berpegang kepada hadits shahih sesuai dengan petunjuk Rasulullah  Salallahu’alaihi Wassalam, sedangkan yang lainnya taklid dengan perkataan guru mereka yang tidak dijelaskan asal ilmu menafsirkan haditsnya dari mana ataupun mati-matian mengatakan bahwa hadits yang digunakan oleh pihak yang berseberangan pendapat dengannya adalah hadits ahad dan tak layak digunakan berdasarkan hawa nafsu mereka tanpa berpegang pada dalil Al Quran atau hadits, padahal Rasulullah  Salallahu’alaihi Wassalam telah berpesan dalam haditsnya yangberbunyi:

“Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat walaupun yang menjadi pemimpin atas kalian seorang budak dari Habasyah (sekarang Ethopia) karena sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian maka ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan kepada sunnah para Khalifah Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham dan hati-hatilah kalian dengan perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah.”. Hadits shohih dari seluruh jalan-jalannya.

Tulisan berikut ini membahas tentang bagaimana kondisi ayah dan ibu Rasulullah  Salallahu’alaihi Wassalam dengan berlandaskan kepada hadits yang berkaitan dengan hal ini, berpedoman dengan petunjuk dari Rasulullah  Salallahu’alaihi Wassalam mengenai keharusan kita dalam berpegang teguh kepada sunnahnya Salallahu’alaihi Wassalam. Diambil dari bantahan terhadap situs dan blog penentang manhaj salafy ahlussunnah di http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=1480 , selamat menyimak, semoga bermanfaat!

Barakallahu fiik

3) Keyakinan (dari blog penentang manhaj salafy ahlussunnah-admin) bahwa Ayah dan Ibu Nabi Muhammad masuk surga

Pada artikel di blog tersebut dengan judul : Ayah dan Ibu Nabi Muhammad SAW Masuk Sorga
Panjang lebar penulis blog tersebut menjelaskan bahwa ayah dan ibunda Nabi masuk surga. Padahal itu bertentangan dengan hadits yang shahih :

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

” dari Anas bin Malik bahwasanya seorang laki-laki berkata : Wahai Rasulullah di mana ayahku ? Nabi bersabda : ‘ di neraka’ . Ketika orang tersebut berpaling, Nabi memanggilnya lagi dan bersabda : ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di an-naar (neraka) (H.R Muslim).

Penulis blog tersebut berusaha mati-matian menolak hadits ini dengan alasan bahwa hadits ini adalah ahad. Subhaanallah, dia menolak hadits yang shohih dengan alasan hanya hadits ahad, karena bertentangan dengan hawa nafsunya, namun di saat lain ia berdalil dengan hadits yang bukan sekedar ahad, namun justru tidak memiliki sanad yang jelas (seperti pada poin ke-1 di atas dan akan dikemukakan pada poin ke-4, Insya Allah). Padahal, keyakinan Ahlusunnah adalah hadits shohih bisa digunakan sebagai hujjah dalam masalah hukum maupun akidah. (Untuk melihat penjelasan lebih lanjut tentang ini bisa dilihat pada blog albashirah.wordpress.com pada tulisan : Hadits Ahad Hujjah dalam Masalah Aqidah dan Hukum bag ke-1 sampai ke-4).
Imam AnNawawi menjelaskan dalam Syarh Shohih Muslim tentang hadits di atas :
(dalam hadits ini terkandung faidah) : ” Bahwasanya barangsiapa yang meninggal dalam keadaan kafir, maka dia masuk anNaar, dan tidaklah bermanfaat baginya kedekatan hubungan kekeluargaan dengan orang-orang yang dekat (dengan Allah). Di dalamnya juga terkandung faidah bahwa orang yang meninggal dalam masa fatrah, yang berada di atas kebiasaan orang Arab berupa penyembahan berhala, maka dia termasuk penghuni annaar. Dan tidaklah dianggap bahwa dakwah belum sampai pada mereka, karena sesungguhnya telah sampai pada mereka dakwah Nabi Ibrahim, dan Nabi yang lainnya -semoga sholawat dan keselamatan dari Allah tercurah untuk mereka.

Sedangkan berkaitan dengan ibunda Nabi, terdapat penjelasan dalam hadits yang shohih, Nabi bersabda :

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي

“Aku memohon ijin kepada Tuhanku untuk memohon ampunan bagi ibuku, tetapi tidaklah diijinkan untukku, dan aku mohon ijin untuk berziarah ke kuburannya, dan diijinkan”(H.R Muslim dari Abu Hurairah)

dalam riwayat Ahmad :

إِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فِي الِاسْتِغْفَارِ لِأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي فَدَمَعَتْ عَيْنَايَ رَحْمَةً لَهَا مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya aku meminta kepada Tuhanku ‘Azza Wa Jalla untuk memohon ampunan bagi ibuku, namun tidak diijinkan, maka akupun menangis sebagai bentuk belas kasihan baginya dari adzab anNaar” (hadits riwayat Ahmad dari Buraidah, al-Haitsamy menyatakan bahwa rijaal hadits ini adalah rijaalus shohiih).

Dalam riwayat lain :

عَنْ أبِي رَزِينٍ، قَالَ: قُلْتَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيْنَ أُمِّي؟، قَالَ:”أُمُّكَ فِي النَّارِ”، قَالَ: فَأَيْنَ مَنْ مَضَى مِنْ أَهْلِكَ؟، قَالَ:”أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ أُمُّكَ مَعَ أُمِّي

” dari Abu Roziin beliau berkata : Aku berkata : Wahai Rasulullah, di mana ibuku? Nabi menjawab : ‘Ibumu di an-Naar’. Ia berkata : Maka di mana ornag-orang terdahulu dari keluargamu? Nabi bersabda : Tidakkah engkau ridla bahwa ibumu bersama ibuku” (H.R Ahmad dan atThobarony, dan al-Haitsamy menyatakan bahwa perawi-perawi hadits ini terpercaya (tsiqoot)).

Nabi tidak diijinkan untuk memohon ampunan bagi ibunya, disebabkan alasan yang disebutkan dalam AlQur’an :

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam” (Q.S atTaubah :113).

Maka saudaraku kaum muslimin, telah jelas khabar dari hadits-hadits Nabi yang shohih bahwa sebenarnya ayah dan ibunda Nabi di an-Naar. Kita sebagai orang yang beriman merasa sedih dengan hal-hal yang membuat Nabi bersedih. Bukankah Nabi menangis sedih ketika beliau memintakan ampunan bagi ibundanya, namun Allah tidak ijinkan. Akan tetapi, dalil-dalil yang shohih di atas memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa kedekatan kekerabatan dengan orang Sholih, bahkan seorang Nabi, tidak menjamin seseorang untuk ikut-ikutan masuk surga. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Imam AnNawawi di atas. Sebagaimana juga Nabi mewasiatkan kepada keluarga-keluarga dekatnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ } دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ فَقَالَ يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي هَاشِمٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنْ النَّارِ فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا

” Dari Abu Hurairah beliau berkata : Ketika turun firman Allah –QS Asy-Syuaroo':213-(yang artinya) : ‘Dan berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu’, Nabi memanggil orang-orang Quraisy sehingga mereka berkumpul –secara umum dan khusus-Nabi bersabda : ‘Wahai Bani Ka’ab bin Lu-ay, selamatkan diri kalian dari anNaar, wahai Bani Murroh bin Ka’ab selamatkan diri kalian dari anNaar, wahai Bani Abdi Syams selamatkan diri kalian dari anNaar, wahai Bani Abdi Manaaf selamatkan diri kalian dari anNaar, wahai Bani Hasyim selamatkan diri kalian dari anNaar, wahai Bani Abdil Muththolib selamatkan diri kalian dari anNaar, wahai Fathimah selamatkan dirimu dari anNaar, sesungguhnya aku tidak memiliki kekuasaan melindungi kalian dari (adzab) Allah sedikitpun, hanyalah saja kalian memiliki hubungan rahim denganku yang akan aku sambung (dalam bentuk silaturrahmi)(H.R Muslim)

Hanya kepada Allahlah kita berharap Jannah-Nya dan hanya kepadaNya kita memohon perlindungan dari an-Naar.

About these ads

7 pemikiran pada “Apakah Ayah dan Ibu Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wassalam masuk surga?

  1. subhanaallah..jika begitu mesti nabi sedihkan…ibu dan bapa yang disayanginya masuk neraka..Alhamdulillah sangat2 kita lahir sebagai muslim…

  2. pertama, buktikan dengan riwayat shahih dari AlQuran dan Hadits bahwa orang tua ayah bunda nabi muhammad Salallahualaihiwassalam bukan penyembah berhala, atau anda akan dituduh sebagai rojul yg berbicara tanpa ilmu. didalam artikel diatas tidak ada kalimat tuduhan bahwa ayah bunda nabi muhammad Salallahualaihiwassalam sebagai penghuni neraka selama-lamanya seperti yg anda tuduhkan, bila tdk anda ralat, saya anggap ini sebagai fitnah, semoga Allah mengampuni kesalahan anda dan membukakan pintu hidayahNya kpd anda.

    kedua, Imam An Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shohih Muslim tentang hadits muslim di atas :
    (dalam hadits ini terkandung faidah) : “Bahwasanya barangsiapa yang meninggal dalam keadaan kafir, maka dia masuk Neraka, dan tidaklah bermanfaat baginya kedekatan hubungan kekeluargaan dengan orang-orang yang dekat (dengan Allah). Di dalamnya juga terkandung faidah bahwa orang yang meninggal dalam masa fatrah, yang berada di atas kebiasaan orang Arab berupa penyembahan berhala, maka dia termasuk penghuni Neraka. Dan tidaklah dianggap bahwa dakwah belum sampai pada mereka, karena sesungguhnya telah sampai pada mereka dakwah Nabi Ibrohim, dan Nabi yang lainnya Alaihissalam. bila anda mengatakan bahwa tidak ada rasul sebelum nabi muhammad Salallahualaihiwassalam, silahkan rujuk kembali kpd silsilah kerasulan nabi, karena anda telah meniadakan keberadaan dua nabi sekaligus yaitu nabi ibrohim dan nabi ismail sebagai para nabi pendahulu sebelum kehadiran nabi muhammad Salallahualaihiwassalam, mengakui keberadaan dakwah nabi Allah adalah bagian dari rukun iman dan bila anda menganggap bahwa tidak ada dakwah nabi sebelum dakwah nabi muhammad Salallahualaihiwassalam, itu merupakan bentuk dari pengingkaran anda thdp salah satu rukun iman, nasehat saya, segeralah anda bertobat.

    disebutkan dalam Al Qur’an :
    مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

    “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam” (Q.S Taubah :113).

    anda memastikan bahwa rasulullah akan murka, padahal hadits itu shohih berasal dari beliau sendiri salallahu’alaihiwassalam? mengapa anda mengingkari hadits yg berasal dari nabi anda sendiri? bahkan indikasinya mengarah bhw anda mengingkari wahyu Allah surat At-Taubah 113 dalam AlQuran? Tidakkah anda mengetahui bahwa as-Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah atas Rasul-Nya yang bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi al-Qur’an dan bersamanya yang semisalnya (yakni as-Sunnah).” (hadits shahih).
    Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata: “Tidak mungkin me­mahami maksud ayat al-Qur’an melainkan lewat Rasulullah shalallahualaihiwasallam. Belumkah kamu membaca firman-Nya dalam surat an-Nahl [16]: 44? Belumkah kamu ketahui bahwa sholat, zakat, haji, puasa, dan semua hukum di dalam al-Qur’an umumnya masih global? Lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam menjelaskan hukumnya. Barangsiapa menolak hadits yang shohih, dia sesat dan jahil.” (at-Tamhid 23/324)

    anda sudah mengatasnamakan nama Rasulullah Salallahu’alaihiwassalam dan berani memastikan bhw Rasulullah Salallahu’alaihiwassalam akan murka, tapi apabila Rasulullah Salallahu’alaihissalam tidak terbukti seperti yg anda katakan, maka hadits shohih berikut akan menimpa anda:

    “Barang siapa yang mengatas namakan aku, apa2 yang tidak pernah aku katakan, maka hendaknya ia mengambil tempatnya di neraka” (Hadits Shahih, Riwayat Bukhari juz 1, Ahmad juz 4)

    “Tidak seorangpun yang berkata atas namaku dengan bathil atau dia mengatakan apa2 yang tidak pernah aku ucapkan, melainkan tempat tinggalnya di neraka. (Hadits Shahih, riwayat Ahmad)

    “Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya dineraka” (Hadits Shahih, riwayat Bukhari dan Muslim).
    Nasehat saya kpd anda agar bertobatlah. semoga anda mendapatkan hidayah. Wallahu’al musta’an

  3. Nabi pernah berkata “Aku tidak dilahirkan dari perkawinan dengan cara jahiliyah, melainkan dari cara Islam” diriwaryatkan oleh Ibnu Abbas r.a., jadi Nabi lahir dari seorang mu’min alias Ayah dan Ibunya mu’min sejati. Juga dirawatkan oleh Ibnu Abbas r.a. “Tidak sekali-kali pertemuan ayah ibundaku dengan perkawinan yang tidak sah. Allah memindahkan Aku dari sulbi yang baik ke rahim yang suci, bersih , dan terpelihara. Dan tidak ada suku yang terpecah menjadi dua, melainkan Aku berada di tempat yang terbaik di antara keduanya”. Dua hadis ini sudah cukup bukti buat orang-orang yang mengatakan bahwa Ibu dan Ayah Nabi bukan seorang mu’min, ini sangat menyinggung Nabi. Barangsiapa yang menyakiti Nabi akan dibalas oleh Allah SWT., ini kata Al-Quran. Maka behatilah-hatilah.

    Bismillah, kepada Muhammad Assegaff, semoga antum mendapat rahmat dan perlindungan Allah, hadits antum yang antum bawa tidak cukup untuk dijadikan hujjah pendapat antum, karena disitu tidak disebutkan bahwa apakah kedua orang tua Rasulullah muslim atau tidak? tidak ada bantahan bahwa pernikahan keduanya adalah sah, namun yang jadi pertanyaan, muslim atau kafirkah keduanya? berikut hadits yang sangat jelas mengenai kedua orang tua Rasulullah salallahu’alaihi wassalam yang langsung keluar dari lisan beliau sebagai anaknya:

    1. Hadits yang diriwayatkan Al Imam Muslim di dalam “Shahihnya” (203), Abu Daud “As Sunan” (4718), Ibnu Hibban “As Shahih” (578), Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (13856), Ahmad “Al Musnad” (7/13861), Abu ‘Awanah “Al Musnad” (289), Abu Ya’la Al Mushili “Al Musnad” (3516), dari Anas bin Malik radhiallahu anhu:
    أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.
    “Bahwasanya seseorang bertanya: “wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka” ketika orang tersebut beranjak pergi, beliau memanggilnya dan berkata: “Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.”

    2. Hadits yang diriwayatkan Al Bazzar di dalam “Al Musnad” (2/1089), At Thabarani “Al Mu’jamul Kabir” (1/326), Ibnu Qudamah Al Maqdisi “Al Ahadits Al Mukhtarah” (1005) dari Sa’ad bin Abi Waqqash:
    أن أعرابيا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله أين أبي قال في النار قال فأين أبوك قال حيث ما مررت بقبر كافر فبشره بالنار
    “Bahwasanya Seorang badui mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya: Wahai Rasulullah! Dimana ayahku? Beliau menjawab: “di neraka”, kemudian dia bertanya lagi: dimana ayahmu? Beliau menjawab: “Setiap kali kamu melewati kuburan orang kafir maka berilah kabar gembira dia dengan neraka.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam “As Sunan” (1/1573) dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dengan tambahan: “Wahai Rasulullah! Dahulu ayahku penyambung silaturahmi dan dia…dan dia…(kemudian dia menyebutkan beberapa kebaikannnya), dimana dia? (kemudian Rasulullah menjawab dengan jawaban diatas…..”
    Berkata Abu Bakr Al Haitsami di dalam kitabnya “Majmu’ Az Zawa’id” setelah menyebutkan hadits diatas: “para perowinya, perowi Shahih Bukhari.”

    3. Hadits yang diriwayatkan Muslim di dalam “Shahihnya” “Kitabul Janaiz bab Isti’dzanun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Rabbahu ‘azza wajalla Fii Ziyaroti Qabri Ummihi” (976), Ibnu Hibban “As Shahih” (3169, Ibnu Majah “As Sunan” (1572) Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (6949,6984,13857), Abu Bakr bin Abi Syaibah “Al Mushannaf” (11807) dan Abu Ya’la “Al Musnad” (6193), dari Abu Hurairah radhiallahu anhu:
    استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي
    “Aku meminta ijin kepada Rabbku (Allah) untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengijinkanku, dan aku meminta ijin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengijinkanku.”.
    Didalam riwayat lain disebutkan: “Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kuburan ibunya kemudian beliau menangis maka menangislah para shahabat seluruhnya, beliau berkata:… (kemudian beliau menyebutkan lafadz diatas) dan melanjutkan: “Hendaklah kalian berziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kematian.”
    Berkata Syamsul Haq Al ‘Adzim Abadi di dalam kitabnya “‘Aunul Ma’bud” (9/Bab Fii Ziyarotil Qubur): “(perkataan nabi) “akan tetapi Dia tidak mengijinkanku” ini disebabkan dia (Aminah) mati dalam keadaan kafir, maka tidak boleh memintakan ampun untuk orang kafir (yang sudah mati).”

    lebih lengkap mengenai pembahasan ini bisa antum lihat di sini

    menolak hadits hadits Rasulullah salallahu’alaihi wassalam berarti mendustakan ucapan beliau, mendustakan ucapan beliau berarti mendustakan Allah, Na’udzubillahi minzalik, Wallahumusta’an, semoga bermanfaat bagi antum dan kita semua, Barakallahu fiikum.

  4. Maaf ini juga sudah jadi perdebatan ulama Ratusan tahun,… Hmmm… Yang penting gak terjadi takfir dan perpecahan lagi… Hmmm…

  5. emang bapaknya nabi syirk kan namanya abdullah(hamba allah)

    Bismillah,
    yang bilang bapaknya masuk neraka bukan saya mas, tp Rasulullah salallahu alaihi wassalam, alias anak kandungnya sendiri
    Wallahu Rasulu a’lam

  6. He he anda memang org yg sgt luar biasa berani tapi sangat dungu ..

    saya hanya mengikuti perkataan Rasulullah Salallahu alaihi wassalam melalui hadits-hadits yang sudah dipaparkan artikel diatas. apakah saat ini anda sedang mencoba mengatakan bahwa saya dungu mengikuti perkataan Rasulullah Salallahu alaihiwassalam? sadarkah anda atas konsekuensi dari ucapan anda?

  7. Hadits yang diriwayatkan Al Imam Muslim di dalam “Shahihnya” (203), Abu Daud “As Sunan” (4718), Ibnu Hibban “As Shahih” (578), Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (13856), Ahmad “Al Musnad” (7/13861), Abu ‘Awanah “Al Musnad” (289), Abu Ya’la Al Mushili “Al Musnad” (3516), dari Anas bin Malik radhiallahu anhu:

    “Bahwasanya seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah! Di mana ayahku?” Beliau menjawab: “Di neraka.” Ketika orang tersebut beranjak pergi, beliau memanggilnya dan berkata: “Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.”

    2. Hadits yang diriwayatkan Al Bazzar di dalam “Al Musnad” (2/1089), At Thabarani “Al Mu’jamul Kabir” (1/326), Ibnu Qudamah Al Maqdisi “Al Ahadits Al Mukhtarah” (1005) dari Sa’ad bin Abi Waqqash:

    “Bahwasanya seorang badui mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya: “Wahai Rasulullah! Di mana ayahku?” Beliau menjawab: “Di neraka.” Kemudian dia bertanya lagi: “Di mana ayahmu?” Beliau menjawab: “Setiap kali kamu melewati kuburan orang kafir maka berilah kabar gembira dia dengan neraka.”

    Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam “As Sunan” (1/1573) dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dengan tambahan: “Wahai Rasulullah! Dahulu ayahku penyambung silaturahmi dan dia… dan dia…(kemudian dia menyebutkan beberapa kebaikannnya), di mana dia? (kemudian Rasulullah menjawab dengan jawaban di atas…..”

    Berkata Abu Bakr Al Haitsami di dalam kitabnya “Majmu’ Az Zawa’id” setelah menyebutkan hadits di atas: “Para perowinya, perowi Shahih Bukhari.”

    3. Hadits yang diriwayatkan Muslim di dalam “Shahihnya” “Kitabul Janaiz bab Isti’dzanun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam rabbahu ‘azza wajalla Fii Ziyaroti Qabri Ummihi” (976), Ibnu Hibban “As Shahih” (3169, Ibnu Majah “As Sunan” (1572) Al Baihaqi “Sunanul Kubro” (6949,6984,13857), Abu Bakr bin Abi Syaibah “Al Mushannaf” (11807) dan Abu Ya’la “Al Musnad” (6193), dari Abu Hurairah radhiallahu anhu:

    “Aku meminta ijin kepada Rabbku (Allah) untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengijinkanku, dan aku meminta ijin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengijinkanku.”

    Di dalam riwayat lain disebutkan: “Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kuburan ibunya kemudian beliau menangis maka menangislah para shahabat seluruhnya, beliau berkata:… (kemudian beliau menyebutkan lafadz diatas) dan melanjutkan: “Hendaklah kalian berziarah kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kematian.”

    Berkata Syamsul Haq Al ‘Adzim Abadi di dalam kitabnya “‘Aunul Ma’bud” (9/Bab Fii Ziyarotil Qubur): “(perkataan nabi) “Akan tetapi Dia tidak mengijinkanku” ini disebabkan dia (Aminah) mati dalam keadaan kafir, maka tidak boleh memintakan ampun untuk orang kafir (yang sudah mati).”

    Pernyataan para ulama’:

    1. Al Imam Al Baihaqi berkata di dalam kitab beliau “Dalailun Nubuwah” (1/192-193) setelah menyebutkan sejumlah hadits-hadits yang menunjukan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka: “Bagaimana keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah patung-patung sampai mereka mati, dan mereka tidak beragama dengan agamanya Nabi Isa alaihis salam, …………”

    Dan di dalam “As Sunanul Kubro” (7/190) beliau berkata: “Kedua orang tua beliau adalah musyrik,” kemudian beliau menyebutkan dalil-dalilnya.

    2. Al Imam Ath Thabari menyebutkan di dalam “Tafsirnya” ketika menjelaskan firman Allah subhanahu wata’ala:

    “Kamu tidak akan ditanya tentang para penghuni jahannam.” (Al Baqarah: 119)

    Dan kedua orang tua beliau termasuk di antaranya. (Tafsir Ath Thabari 1/516)

    3. Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i berkata ketika menjelaskan hadits “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. Hadits ini mengandung faidah bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia termasuk dari penduduk neraka, tidak akan bermanfaat pembelaan orang yang membela, dan barang siapa yang mati pada masa fathrah (kosongnya masa kenabian) dari para penyembah berhala, maka dia termasuk dari penghuni neraka, ini bukan dikarenakan belum sampai kepada mereka dakwah akan tetapi telah sampai kepada mereka da’wah Ibrahim dan nabi-nabi setelahnya shalatullah wa salamullahu alaihim. (Syarhun Nawawi:1/79)

    4. Berkata Al ‘Adzim Abadi di dalam “Aunul Ma’bud” ketika menjelaskan hadits, “Allah tidak mengijinkanku untuk memintakan ampunan untuk ibuku” : “Karena ibunya adalah kafir, dan memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati) adalah dilarang… dan di dalam hadits ini terdapat faidah bolehnya ziarah ke kuburan orang musyrikin dan larangan untuk memintakan ampunan untuk orang kafir (yang sudah mati).”

    5. Al Imam Al Qori’ menukilkan ijma’ para ulama’ salaf (yang terdahulu dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) dan khalaf (setelah shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam termasuk dari penghuni neraka, dia berkata: “Telah bersepakat para ulama’ salaf dan khalaf, imam yang empat (Imam Malik, Ahmad, Syafi’i, Abu Hanifah) dan seluruh mujtahidiin bahwa kedua orang tua Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan masuk neraka……..

    6. Al Imam Al Baidhawi ketika menafsirkan ayat ‎ ﻭﻻ ﺗﺴﺄﻝ berkata: “Al Imam Nafi’ dan Ya’qub membacanya dengan huruf ta’ berharokat fathah yang artinya: “Janganlah kamu bertanya tentang penghuni neraka”. Ini adalah larangan terhadap beliau shalallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya tentang keadaan kedua orang tua beliau.” (Tafsir Al Baidhawi, 1/185)

    Masih banyak lagi hujjah-hujjah yang lainnya yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mati kafir dan termasuk penghuni neraka kekal di dalamnya. Akan tetapi kita cukupkan sampai di sini dulu.

    Mungkin ada yang menyatakan: bahwa orang-orang yang mengatakan kedua orang tua Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam neraka adalah orang-orang yang tidak memiliki adab kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam !!! Untuk syubhat yang satu ini, insya Allah akan kita kupas pada pembahasan yang akan datang. Wallahu a’lam.

    Penutup

    Di antara akhlak seorang mukmin dan mukminah adalah menerima terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuhnya. Allah berfirman:

    “Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan untuk memilih yang lain dari urusan mereka. Barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS. Al Ahdzab: 36)

    Dan di antara yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah apa yang telah kami sebutkan di atas berupa hadits-hadits shahih dengan penjelasan para ulama’ bahwa kedua orang tua beliau mati musyrik. Inilah adab seorang mukmin.

    Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam bish shawab.

    Jazakallahu khairan katsira

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s